Minggu, 23 Desember 2018

Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental






Olahraga adalah aktivitas seseorang untuk melatih tubuh entah itu jasmani atau rohani di mana orang yang melakukan olah raga secara teratur akan mendapatkan manfaat yang berlimpah seperti tubuh menjadi bugar dan segar, tubuh menjadi seimbang antara berat badan dan tinggi badan dan juga badan menjadi atletis. Olahraga secukupnya setidaknya menyisihkan waktu 30 sampai 45 menit untuk olahraga, itu adalah waktu yang cukup untuk olah raga secara teratur.
Manfaat olahraga untuk kesehatan tubuh kita memang sudah lama terbukti, latihan olahraga penting tidak hanya penting untuk memelihara kebugaran fisik tetapi juga kesehatan mental. Cukup dengan menggerakkan tubuh selama 10 menit setiap hari kesehatan mental kita akan meningkat cepat. Selain itu daya pikir akan bertambah jernih dan yang menggembirakan dapat mengurangi ketegangan alias stress serta membuat perasaan menjadi riang selalu. Menurut Landers ada lima manfaat olahraga yang dapat menyehatkan mental kita. apa saja itu?





1. Meningkatkan mood

 

 

 Bagi seseorang yang gemar olahraga, seperti Sepak bola,gym, aktivitas fisik tersebut bisa memicu zat kimia otak yang bisa membuat seseorang merasa lebih bahagia dan lebih rileks. Olahraga tim, juga memberikan kesempatan untuk melepas lelah dan meningkatkan kebugaran tubuh. Berolahraga dapat membantu kita mengurangi kegelisahan hati dan bahkan dapat melawan kemarahan.









2. Meningkatkan konsentrasi








Aktivitas fisik yang teratur bisa membantu menjaga kesehatan mental, merupakan kunci agar konsentrasi seseorang tetap tajam seiring bertambahnya usia. Konsentrasi tersebut termasuk berpikir secara kritis, belajar dan menggunakan penilaian yang baik.
Penelitian menunjukkan bahwa melakukan campuran aktivitas aerobik dan penguatan otot sangat membantu konsentrasi. Lakukan aktivitas tersebut dalam tiga sampai lima kali dalam seminggu, setidaknya 30 menit dan rasakan manfaatnya pada kesehatan mental Anda.






3. Olahraga Meningkatkan Rasa Bahagia 

 

 

 

Olahraga terbukti manjur dalam meningkatkan hormon penumbuh rasa bahagia dalam otak kita, seperti adrenalin, serotonin, dopamin dan endorphin, yang merupakan pembunuh nomor satu penyakit hati. Sebuah survey di Inggris melaporkan 83% penderita depresi bergantung pada aktifitas olahraga dalam memperbaiki perasaan hati dan mengurangi kecemasan.
Berolahraga selama 16 minggu secara rutin di percaya memiliki efek bahagia, penelitian di Universitas Duke membuktikan bahwa 60% penderita depresi yang menjalani olahraga 30 menit tiga kali seminggu selama enam bulan dapat melawan penderitaan tanpa harus menggunakan obat dokter.






4.Membangun  sifat kepemimpinan

 

 


Olahraga tim, seperti sepak bola, bola basket dan baseball merupakan olahraga yang bagus untuk mengembangkan karakter kepemimpinan. Studi yang dilakukan di sekolah menengah menunjukkan adanya korelasi antara partisipasi olahraga dan kualitas kepemimpinan.
Dengan kesempatan untuk melatih, mencoba, menang atau kalah bersama, orang-orang yang terlibat di dalamnya secara alami akan cenderung untuk mengadopsi 'pola pikir tim' di tempat kerja dan dalam situasi sosialnya. Pola pikir tim mengarah pada kualitas kepemimpinan yang kuat dari waktu ke waktu.



5. Meningkatkan rasa percaya diri



 

Berolahraga rutin juga ternyata mampu meningkatkan kepercayaan diri, dan meningkatkan harga diri seseorang. Seiring dengan kekuatan, keterampilan dan stamina meningkat melalui olahraga, citra diri juga akan meningkat.
Dengan adanya semangat dan energi baru yang berasal dari aktivitas fisik, seseorang cenderung berhasil dalam tugas di luar lapangan bermain maupun juga di dalamnya.



Dari manfaat diatas, dapat kita lihat bahwa olahraga memiliki dampak yang poisitif terhadap kesehatan mental, mulai dari membangun rasa percaya diri, samapai membuat kita bahagia.Oleh karena itu, hendaknya kita mulai dapat membagi waktu kita setiap hari untuk berolahraga, demi kesehata mental kita.

Jumat, 21 Desember 2018

Kekerasan anak dan Masalah sosial yang kronis






KEKERASAN ANAK DAN  MASALAH SOSIAL YANG KRONIS


Kekerasan merupakan salah  satu bentuk  untuk mengungkapkan suatu rasa kekecewaan seorang individu maupun kelompok terhadap suatu masalah atau kasus yang dihadapi. Kasus kekerasan belum banyak terungkap dan teratasi di Indonesia. Kasus kekerasan pada anak-anak, remaja, hingga dewasa pun menjadi sesuatu yang sudah biasa pada saat ini. Padahal seharusnya kekerasan terhadap anak, harusnya sudah mulai bisa diatasi sejak dini, karena anak merupakan generasi penerus bangsa, dan kehidupan anak saat kecil akan mempengaruhi sikap mental dan moral seorang anak pada saat dewasa nanti.Kenyataan, masih banyak anak-anak Indonesia yang belum terpenuhi hak-hak yang harus di dapatkannya, banyak anak yang mengalami kekerasan,diskriminasi  eksploitasi, serta perlakuan yang tidak manusiawi. Semua tindakan kekerasan  yang dialami, akan direkam pada alam bawah sadar mereka dan akan dibawa saat mereka dewasa dan bahkan sepanjang hidupnya.Mungkin kekerasan fisik pada anak dapat disembuhkan dengan cepat, namun masalah psikologis anak tersebut akan sulit untuk dihilangkan  tanpa batuan  oleh orang orang di sekitarnya. (Huda, 2008)
Jika perilaku tersebut dibiarkan, maka akan membuat seorang anak menjadi  pelaku  dari masalah sosial yang terjadi di lingkungan di sekitarnya. Maka dari itu perlu dibutuhkan bantuan dari berbagai pihak untuk menyelesaiakan masalah ini.  Banyak faktor yang menyebabkan  kekerasan pada anak-anak. Hingga menjadi masalah yang serius , faktor tersebut adalah

1.      Tidak ada kontrol sosial pada tindakan kekerasan terhadap anak-anak.
Hal ini sering kali terjadi di lingkungan sekitar kita, ketika kita melihat tindak kekerasan yang sudah melewati batas, kita cenderung tidak peduli akan hal tersebut, selagi orang yang melakukan hal tersebut masih saudara atau dekat pada korban. Hal ini sangat salah, dengan membiarkan hal tersebut, sama saja kita mendukung tindak kekerasan tersebut.Serta akan menjadi anak tersebut sebagai peyebab masalah sosial di saat dewasanya, karena anak tersebut akan cenderung kasar dan akan merusak lingkungan di sekitarnya
2.      Hubungan anak dengan orang dewasa berlaku seperti hirarkhi sosial di masyarakat.

 Sering kali terjadi  di masyarakat bahwa seorang anak dengan guru atau orang tuanya harus selalu menghormati dan jika  hal tersebut tidak dijalankan, maka anak tersebut akan diberi hukuman. Dalam hal seperti ini, anak seharusnya di jadikan sebagai mitra untuk dapat mengembangkan bakatnya dengan bantuan orang tua atau guru sekolah, jadi pada seorang anak tidak perlu berlaku terlalu keras.

3.      Kemiskinan
 Kemiskinan Kita akan menemukan bahwa para pelaku dan juga koban kekerasan anak kebanyakan berasal dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. Kemiskinan, membuat banyak orang bertindak sesuka hatin pada korban, banyak orang yang memandang kelas dan status sosial sebagai hal yang paling penting, membuat banyak sekali anak- anak tertindas agar keinginan dari orang kaya tersebut dapat terpenuhi .

4.      Pengalaman Orang Tua

Orang tua anak  yang semenjak kecilnya mendapat perlakuan yang salah, maka perlakuan yang diterima nya, akan dibawa sampai menjadi dewasa, serta perilaku tersebut sudah dianggap sebagai hal yang wajar, dan oleh sebab itu, perilaku nya terseut akan dilakukan pada anaknya kelak, karena dia telah menganggap bahwa kekerasan lah yang dapat mendidik seorang anak agar patuh terhadap orang tuanya.
(Fitriana, Pratiwi, & Sutanto, 2015)

Dampak Kekerasan Terhadap Anak
Banyak Peneliti membuktikan bahwa pelaku kekerasan pada saat dewasa merupakan korban dari kekerasan  di masa kecil. Hal ini membuat seorang individu pada saat dewasa cenderung melakukan tindak kekerasan sebagai bentuk  rasa balas dendam yang dialaminya di masa lalu, dan biasanya hal itu dilakukan pada orang-orang terdekatnya. Selain itu perilaku kekerasan juga di pengaruhi oleh kepribadian seseorang seperti paranoit, narsistik, dan lain-lain. Anak yang menyaksikan atau mengalami kekerasan di lingkungan atau di keluarganya akan menderita Post Traumatic Stress Disorders ( PTSD) yang  terjadi dalam bentuk ganguan tidur, sulit memusatkan perhatian, pendiam, dan banyak bentuk lainnya. (Muria, 2016). Untuk lebih jelasnya berikut ditampilkan video  dampak kekerasan terhadap anak.




\
 










Upaya Penanggulangan Kekerasan terhadap anak

Kekerasan pada anak dapat ditanggulangi bersama dengan masyarakat dan pemerintah yang terlibat aktif, namun sebelum itu hendakn nya seluruh orang tua harus aktif dalam bersosialisasi dengan anak mereka, dengan bersoialisasi maka orang tua akan lebih mengenal karakter anak tersebut dan dapat menentukan tindakan yang akan dilakukan kapada anaknya. Berbagai pencegahan tindak kekerasan dapat dilakukan dengan sosialisasi dan diseminasi. Diseminasi adalah  suatu kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Diseminasi dapat dilaksanakan dalam bentuk seminar dan workshop, atau melalui media cetak dan elektronik, dalam suasana formal maupun informal.
Melalui Sosialisasi dan Diseminasi  diharapkan dapat merubah perilaku masyarakat dalam pola mendidik anak tanpa kekerasan, termasuk pula perubahan pengetahuan  (conitive), perubahan sikap (affective), dan perubahan psikomotorik (psychomotoric) terhadap orang dewasa dalam memperlakukan anak.Sehingga kekerasan terhadap anak pun dapat dikurangi dan bahkan di hilangankan. (Adawiah, 2015)









































DAFTAR PUSTAKA
Adawiah, R. Al. (2015). Upaya Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak. JURNAL KEAMANAN NASIONAL.
Fitriana, Y., Pratiwi, K., & Sutanto, A. V. (2015). FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU ORANG TUA DALAM MELAKUKAN KEKERASAN VERBAL TERHADAP ANAK USIA PRA-SEKOLAH. Jurnal Psikologi Undip. https://doi.org/10.14710/jpu.14.1.81-93
Huda, N. (2008). Kekerasan Terhadap Anak Dan Masalah Sosial Yang Kronis. Pena Justisia.
Muria. (2016). Kekerasan terhadap anak. Sindo News.Com.




Minggu, 16 Desember 2018

Aliran- Aliran Dalam Psikologi

1. Strukturalisme
   
Aliran Strukturalisme, pertama kali diperkenalkan oleh Wilhlem Wundt, Aliran Strukturalisme, merupakan aliran yang pertama kali ditemukan dalam Psikologi, Wundt  setelah dia melakukan eksperimen di laboratoriumnya.
Wundt.Wundt berpendapat, bahwa untuk mempelajari kejiwaan, kita harus lebih dahulu mengetahui isi dan struktur kejiwaan. Dalam melakukan eksperimen nya, Wundt biasanya menyuruh orang untuk menceritakan kembali pengalaman dan perasaannya setelah melakukan eksperimen.Cara ini biasanya dikenal dengan metode  intropeksi/ mawas diri.    Strukturalisme kemudian dikembangkan lagi Edward Titchener  yang merupakan murid dari Wilhelm Wund. Dimana mereka percaya, bahwa obyek utama dari Psikologi adalah kesadaran, mereka melatih diri mereka untuk mengungkapkan isi pikiran mereka sendiri lewat metode  intropeksi yang mereka lakukan.psikologi strukturalisme disebut juga psikologi elementalisme. Selain dipandang terdiri atas elemen-elemen dasar, kesadaran, oleh Wundt dan para ahli psikologi lainnya pada masa itu, dipandang sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental. Segala sesuatu atau proses yang terjadi dalam diri manusia, selalu bersumber pada kesadaran.Ciri-ciri dari strukturalisme Wundt adalah penekanannya pada analisis atau proses kesadaran yang dipandang  terdiri atas elemen-elemen dasar, serta usahanya menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antar elemen  kesadaran tersebut.Edward Bradford Titcherner(1867-1927). Titcherener merupakan orang Inggris yang pertama yang mewakili pandangan-pandangan psikologi Jerman (Wundt) sebagai murid Wundt, ia menerjemahkan beberapa buku Wundt dalam bahasa inggris. Setelah belajar di Leipzig, Titchener ingin kembali ke Oxford, namun ditolak, karena psikologi di Inggris tidak sejalan dengan Wundt. Oleh karena itu,ia pergi ke Cornell University di Amerika Serikat, dan sebagai guru besar, ia mengembangkan strukturalisme di Amerika Serikat dari universitas tersebut.


  2. Fungsionalisme


Aliran fungsionalisme merupakan aliran psikologi yang pernah sangat dominan pada masanya, dan merupakan hal penting yang patut dibahas dalam mempelajari psikologi. Pendekatan fungsionalisme berlawanan dengan pendahulunya, yaitu strukturalisme. Aliran fungsionalisme juga keluar dari pragmatism sebagai sebuah filsafat. Aliran fungsionalisme berbeda dengan psikoanalisa, maupun psikologi analytis, yang berpusat kepada seorang tokoh. Fungsionalisme memiliki macam-macam tokoh antara lain Willian James, John Dewey, J.R.Anggell dan James Mc.Keen Cattell.
Fungsionalisme adalah orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Maksudnya, Fungsionalisme memandang bahwa masyarakat adalah sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan tak bisa dipahami secara terpisah.

          Sesuai namanya, fungsionalisme lebih mengarah pada fungsi dan kegunaan jiwa itu sendiri. Tokoh yang memperkenalkan fungsionalisme di Amerika Serikat adalah William James yang menerbitkan textbook yang sangat berpengaruh pada 1890. Ia terkesan dengan teori evolusi darwin bahwa segala sesuatu yang berevolusi karena ada tujuan dan fungsi tertentu. James percaya bahwa berpikir,merasakan,belajar,mengingat dan proses mental lain hadir karna mempunyai fungsi dan tujuannya sendiri agar manusia dapat bertahan dalam spesiesnya.
Karena pandangan ini menganggap bahwa sesuatu itu mempunyai fungsi dan tujuannya masing masing. Maka Hermann Ebbinghaus dan Mary Whiton Calkins membuat studi tentang memori. Hermann Ebbinghaus adalah seorang fungsionalis dari Jerman yang mempelajari studi tentang memory dan menerbitkan sebuah buku yg berjudul On Memory pada tahun 1885. Menurutnya salah satu hal yang terpenting dalam proses mental adalah memori. Ebbinghaus menemukan fakta dari penelitiannya bahwa melupakan sangat cepat pada awalnya tetapi berlangsung perlahan setelahnya.
Sedangkan Mary Whiton Calkins juga seorang fungsionalisme yang mempelajari tentang memori. Ia murid dari William James di Universita Harvard pada tahun 1800an. Calkins mempresentasikan hasil penelitiannya berbeda caranya dengan Hermann. Variasi dari metode Calkins disebut paired associates method

 
 


 3. Behaviorisme





Behaviorisme adalah suatu paham yang memandang bahwa kesadaran manusia tidak mungkin dapat dipelajari secara ilmiah,sehingga paham ini berfokus pada pengalaman sadar individu. Para pemegang paham ini mempelajari nilai adaptif dari suatu pengalaman.Tokoh pertamanya adalah Ivan Pavlov. Ivan Pavlov adalah seorang ahli biologi dari Rusia,ia beserta temannya melakukan sebuah penelitian terhadap sebuah anjing. Ia memberi makan seekor anjing sebagai stimulus asli dan anjing secara alamiah mengeluarkan air liurnya,pada percobaan berikutnya ia memberi stimulus netral yaitu bunyi lonceng kepada anjing namun si anjing tidak memberikan respon apapun. Pada percobaan selanjutnya ia memberikan makanan dan bunyi lonceng kepada anjing kemudian si anjing memberikan respon dengan mengeluarkan air liurnya. Percobaaan memberi makan dan membunyikan lonceng di lakukan secara berulang. Percobaan selanjutnya,ketika lonceng di bunyikan namun makanan tidak diberi,si anjing tetap mengeluarkan air liurnya. Hal tersebut terjadi karena adanya proses pengkondisian. Percobaan ini membuktikan bahwa dengan stimulus asli dan netral jika di pasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang maka akan menimbulkan reaksi yang di inginkan. Kesimpulannya adalah perilaku alamiah atau refleks yang diwariskan dapat berubah karena mendapat latihan. Oleh karena itu menurut Pavlov, pengkondisian sangat penting untuk kelangsungan hidup. Penelitian Pavlov ini sangat berpengaruh pada pandangan behaviorisme dimana perilaku manusia dapat berubah jika mengalami pengulangan atau latihan.







Tokoh selanjutnya adalah John B. Watson dan Margaret Floy Washburn yang setuju dengan Pavlov. Di tahun 1910an, John beserta Margaret membuat sebuah karya yang berjudul ‘’Psychology as the Behaviorist Views it’’ yang mana karyanya ini mengenalkan teori behaviorisme kepada masyarakat  Amerika Serikat. Mereka setuju bahwa sebagian besar perilaku manusia dipelajari melalui pengkondisian klasik. Setelah mereka meninggal, behaviorisme selanjutnya diajarkan oleh B.F Skinner dari Universitas Harvard.






4. Gestalt





          Gestalt pertama kali diperkenalkan oleh Max wertheimer seorang professor psikologi dari university of frankfurt pada tahun 1900an. Wertheimer memimpin sebuah kelompok yang disebut psikolog gestalt. Pendekatan mereka tentang teori gestatlt didasarkan oleh konsep gestalt dari Jerman. Prinsip utama dari gestalt adalah bahwa semua yang identik dan tersusun sedemikian rupa akan membawa otak untuk berpikir tentang suatu pola atau gambar yang sebenarnya tidak terbentuk. Hanya saja karena identik dan tersusun maka kita akan berasumsi bahwa itu adalah sebuah gambar. Gestalt ini banyak digunakan dalam bidang seni rupa karena dapat menjelaskan persepsi visual yang terbentuk. Gestalt terutama digunakan dalam mendesain logo atau lambang.

Kesadaran dan jiwa manusia tidak mungkin dianalisis kedalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipelajari sebagai suatu keselurujan atau totalitas. Keseluruhan adalah lebih lebih dari sekedar penjumlahan unsur-unsurnya.keseluruhan itu lebih dahulu ditanggapi dari bagian-bagiannya dan bagian-bagian itu harus memperoleh makna keseluruhan. Artinya, makna gestalt bergantung pada unsur-unsurnya dan sebaliknya arti unsure-unsur itu bergantung pula pada gestalt. Guna menjelasakan secara mudah mengenai konsep gestalt ini, Weitheimer menjelaskan bahwa apa yang sedang dilihat oleh seseorang merupakan  efek dari keseluruhan peristiwa, yang tidak terkandung dalam total bagian-bagian itu. Seseorang yang sedang melihat untaian lampu yang mengalir, sekalipun hanya melihat satu lampu yang bersinar pada satu waktu, sebab keseluruhan peristiwa mengandung hubungan-hubungan diantara masing-masing lampu yang kita alami juga.
         





5. Fungsionalisme



Psikologi kognitif bermula saat Plato dan Aristoteles berdebat mengenai bagaimana cara manusia memahami pengetahuan. Plato berpendapat bahwa manusia berpikir secara logis. Kognisi adalah proses yang dilakukan agar dapat memperoleh informasi. Psikologi kognitif berfokus pada proses mental yang pada akhirnya akan memengaruhi tindakan seseorang. Istilah kognitif merujuk pada seluruh proses intelektual seperti berfikir, mengingat, memahami, memustuskan, dsb. Di dalam proses mental, seseorang akan memperoleh informasi yang pada akhirnya akan digunakan dalam beraktivitas. Pada masa sekarang psikologi kognitif merupakan bentuk modern dari fungsionalisme dan juga dipengaruhi oleh psikologi gestalt dan strukturalisme.
Salah satu tokoh yang mengemukakan teori kognitif adalah Jean Piaget. Teorinya menekankan bahwa terdapat batasan dalam kecerdasan. Karena, untuk memeroleh pengetahuan dibutuhkan beberapa tahap perkembangan. Ia berpendapat bahwa perubahan umur akan memengaruhi kemampuan belajar individu. Ada tiga aspek intelegensi menurut Piaget, yaitu struktur, isi, dan fungsi.

6. Social Learing 



      Yang pertama kali mengenalkan teori social learning adalah Albert Bandura. Albert Bandura adalah seorang tokoh behaviorisme dari Universitas Stanford. Albert memberi pandangan bahwa aspek penting dari kehidupan kita dapat dipelajari melalui orang lain di lingkungan sekitar kita. Kita dapat memperoleh pelajaran dari keluarga,teman maupun budaya di lingkungan kita. Contohnya seperti, kita mempunyai teman yang datang terlambat pada mata kuliah A di hari senin sehingga mendapat hukuman dari dosen,agar hukuman tersebut tidak terjadi kepada kita maka kita berusaha pada hari senin depan pada mata kuliah A kita tidak datang terlambat.











Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental

Olahraga adalah aktivitas seseorang untuk melatih tubuh entah itu jasmani atau rohani di mana orang yang melakukan olah raga secar...